Jumat, 04 Mei 2012

destilasi zat cair (destilasi sederhana dan destilasi uap)

MODUL I
DESTILASI UAP DAN DETILASI SEDERHANA

A.  TUJUAN:
Agar Mahasiswa dapat memahami cara penggunaan dan prinsip kerja destilasi

B. PRINSIP KERJA:
Pemisahan zat cair yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan

C. DASAR TEORI

a)     Sejarah destilasai
            Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4 Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873). 

b)  DESTILASI
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton.
Detilasi digunakan untuk memurnikan zat cair, yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni. Kemudian uap ini didinginkan pada pendinginan ini, uap mengembun menjadi cairan murni yang disebut destilat.
Destilat dapat digunakan untuk memperoleh pelarut murni dari larutan yang mengandung zat terlarut misalnya destilasi air laut menjadi air murni
(Modul DDPA;2010;1)
Destilasi merupakan suatu proses pemisahan dua atau lebih komponen zat cair berdasarkan pada titik didih. Secara sederhana destilasi dilakukan dengan memanaskan/menguapkan zat cair lalu uap tersebut didinginkan kembali supaya jadi cair dengan bantuan kondensor.


c)  MACAM-MACAM DISTILASI
1.    Destilasi sederhana
Biasanya destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zat cair yang titik didih nya rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun hasilnya tidak benar-benar murni atau bias dikatakan tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat padat atau minyak.
Destilasi sederhana adalah salah satu cara pemurnian zat cair yang tercemar oleh zat padat/zat cair lain dengan perbedaan titik didih cukup besar, sehingga zat pencemar/pengotor akan tertinggal sebagai residu. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran cair-cair, misalnya air-alkohol, air-aseton, dll. Alat yang digunakan dalam proses destilasi ini antara lain, labu destilasi, penangas, termometer, pendingin/kondensor leibig, konektor/klem, statif, adaptor, penampung, pembakar, kaki tiga dan kasa.
 
2.    Destilasi bertingkat (fraksionasi)
Destilasi bertingkat adalah proses pemisahan destilasi ke dalam bagian-bagian dengan titik didih makin lama makin tinggi yang selanjutnya pemisahan bagian-bagian ini dimaksudkan untuk destilasi ulang. Destilasi bertingkat merupakan proses pemurnian zat/senyawa cair dimana zat pencampurnya berupa senyawa cair yang titik didihnya rendah dan tidak berbeda jauh dengan titik didih senyawa yang akan dimurnikan. Dengan perkataan lain, destilasi ini bertujuan untuk memisahkan senyawa-senyawa dari suatu campuran yang komponen-komponennya memiliki perbedaan titik didih relatif kecil. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran aseton-metanol, karbon tetra klorida-toluen, dll. Pada proses destilasi bertingkat digunakan kolom fraksinasi yang dipasang pada labu destilasi. Tujuan dari penggunaan kolom ini adalah untuk memisahkan uap campuran senyawa cair yang titik didihnya hampir sama/tidak begitu berbeda. Sebab dengan adanya penghalang dalam kolom fraksinasi menyebabkan uap yang titik didihnya sama akan sama-sama menguap atau senyawa yang titik didihnya rendah akan naik terus hingga akhirnya mengembun dan turun sebagai destilat, sedangkan senyawa yang titik didihnya lebih tinggi, jika belum mencapai harga titik didihnya maka senyawa tersebut akan menetes kembali ke dalam labu destilasi, yang akhirnya jika pemanasan dilanjutkan terus akan mencapai harga titik didihnya. Senyawa tersebut akan menguap, mengembun dan turun/menetes sebagai destilat.
Proses ini digunan untuk komponen yang memiliki titik didih yang berdekatan.Pada dasarnya sama dengan destilasi sederhana, hanya saja memiliki kondensor yang lebih banya sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memliki perbedaan titik didih yang bertekanan. Pada proses ini akan didapatkan substan kimia yang lebih murni, kerena melewati kondensor yang banyak.

3.    Destilasi azeotrop
Digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tsb, atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
Distilasi Azeotrop digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tsb, atau dengan menggunakan tekanan tinggi. Azeotrop merupakan campuran 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut dididihkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut :

Titik A pada pada kurva merupakan boiling point campuran pada kondisi sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan uapnya dipisahkan dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini kemudian didinginkan dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. (ditandai dengan garis vertikal putus-putus Etanol dan air membentuk azeotrop pada komposisi 95.6%-massa etanol pada keadaan standar.
4.    Destilasi vakum(destilasi tekanan rendah)
Destilasi ini digunakan untu zat yang tak tahan suhu tinggi atau bias rusak pada pemansan yang tinggi. Sehingga dengan menurunan tekanan maka titik didih juga akan menurun, maka destilasi yang tadinya harus dilakukan pada suhu tinggi tetap dapat dilakukan pada suhu rendah dengan menurunkan tekanan.
5.    Refluks/ destrusi
Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam –macam destilasi walau pada prinsipnya agak berkelainan. Refluks dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik adalah “lambat” maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara refluks.
Fungsi refluks, adalah memperbesar L/V di enriching section, sehingga mengurangi jumlah equibrium stage yang diperlukan untuk product quality yang ditentukan, atau, dengan jumlah stage yang sama, akan menghasilkan product quality yang lebih baik dengan menggandakan kontak kembali antara cairan dan uap agar panas yang digunakan efisien. Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam-macam destilasi walau pada prinsipnya agak berkelainan. Refluks dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik adalah lambat maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara refluks.
6.    Destilasi uap
Untuk memurnikan zat/senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement), maka zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap.
Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap (lihat gambar alat destilasi uap).
Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut, karena titik didih suatu campuran lebih rendah dari pada titik didih komponen-komponennya. Gambar set alat destilasi uap:
 
d)  JAHE
            Kandungan Rimpang Jahe Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Mnnyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol. Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol.
Khasiat jahe, sejak dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan lainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan.
Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe.

Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat. Penelitian modern telah membuktikan   secara ilmiah berbagai manfaat jahe, antara lain :
Ø   Menurunkan tekanan darah. Hal ini karena jahe merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah mengalir lebih cepat dan lancar dan memperingan kerja jantung memompa darah.
Ø   Membantu pencernaan, karena jahe mengandung enzim pencernaan yaitu protease dan lipase, yang masing-masing mencerna protein dan lemak..
Ø   Gingerol pada jahe bersifat antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Jadi mencegah tersumbatnya pembuluh darah, penyebab utama stroke, dan serangan jantung. Gingerol juga diduga membantu menurunkan kadar kolesterol.
Ø   Mencegah mual, karena jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual. Termasuk mual akibat mabok perjalanan.
Ø   Membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin.
Ø   Jahe juga mengandung antioksidan yang membantu menetralkan efek merusak yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

D. ALAT DAN BAHAN

ü  Alat destilasi ederhana dan destilasi uap
·           Satatif dan klem
·           Timbangan Analitik
·           Alat Destilasi Sederhana
·           Alat detilasi uap
·           Penanas
·           Erlemeyer
·           Selang
·           Termometer
ü  Bahan
·         Batu didih                     
·         Cengkeh     
·         Aquadest

E.  PROSEDUR KERJA
Destilasi Sederhana
1.  Mengukur sampel 20 ml
2.  Dimasukan ke dalam labu leher dua
3.  Ditambahkan 25 mL air dan dimasukan beberapa batu didih
4.  Labu dihubungkan dengan pendingin dan dihubungkan dengan generator uap air
5.  Memanaskan labu destilasi dan mengamati suhu saat terjadi penguapan pada sampel dan menentukan larutan tersebut

Destilasi uap

1.  Merangkai alat destilasi
2.  Memotomg-motong sampel (jahe)
3.  Memasukkan kedalam labu leher dua (labu destilasi)
4.  Memasukkan air 450 mL kedalam erlemeyer yang sebagai pembangkit uap
5.  Memasukkan beberapa batu didih kedalam erlemeyer yang berisi air
6.  Menghubungkan labu destilat dengan pendingin dan generator uap air.
7.  Memanaskan erlemeyer yang sebagi pembangkit uap secara perlahan-lahan sampai mendidih sehingga uapnya masuk kedalam labu yang mengandung zat sampel (cengkeh)
8.  Menghentikan destilasi jika semua zat sampel telah terpisah dan tertampung dalam labu erlenmeyer sebagai penampung destilat.
9.  Masukan destilat ke dalam corong pisah,
10.         Mengocok dan mendiamkan beberapa menit
11.  Memisahkan minyak atsirih dari pengotornya (air).
12.  Menimbang minyak yang dihasilkan
 

F.    HASIL PENGAMATAN
  a.    Destilasi sederhana
Perlakuan
Hasil
Ø Memasukan 25 ml air
Ø Memasukkan sampel kedalam labu destilasi
Ø Menambahkan 25 ml pelarut air


Ø Menghubungkan labu destilasi dengan pendingin dan dihubungkan dengan generator uap air
Ø Memanaskan labu destilasi dan mengamati suhu saat terjadi penguapan pada sampel meleleh atau menetes
-
-

Zat terlarut dan pelarut tidak saling campur zat terlarur (sampel) berada pada lapisan atas




Sampel mendidih terlebihdahulu dari pada pelarut
T1=1-9 = 56° C
T2= 10-16= 57°C
T3 = 17-77 = 58 °C
T4 = 78-111 = 59 °C
T5= 112-168 = 60 °C
T6 = 168-230 = 61 °C
T6 = 231-290 = 62 °C
T7 = 290-390 = 63 °C
T konstan = 63 °C




   b.    Destilasi uap

Perlakuan
Hasil Pengamatan
Merangkai alat destilasi

Memotong-motong cengkeh
Potongan kecil cengkeh
Memasukkan cengkeh  kedalam labu leher dua

Memasukkan 450 mL air kedalam erlemeyer sebagi pembangkit uap

Memasukkan beberapa batu didih

Menghubungkan labu dengan pendingin dan menghubungkan dengan generator uap air

Memanaskan erlemeyer sebagi pembangkit uap

Memanaskan erlemeyer yang sebagi pembangkit uap secara perlahan-lahan sampai mendidih sehingga uapnya masuk kedalam labu yang mengandung zat sampel (cengkeh)

Menghentikan destilasi jika semua zat sampel telah terpisah dan tertampung dalam labu erlenmeyer sebagai penampung destilat.

Masukan destilat ke dalam corong pisah

Mengocok dan mendiamkan beberapa menit
Terjadi dua lapisan
Memisahkan minyak atsirih dari pengotornya (air).

Menimbang minyak yang dihasilkan
Minyak atsirih dari cengkeh sebanyak 0,69 gr

G. PERHITUGAN
Destilasi uap
 Dik :             Berat jahe  = 206,87 gr
Berat botol fial =9,72 gr
Berat nibyak= 0,569 gr
Dik: % minyak = .....?
Penye
%minyak       = berat minyak / berat sampel
= 0,569 gr/ 206,87 gr
=0,0027 gr x 100%
=0,27 %

H. PEMBAHASAN
1.  Destilasai sederhana
Destilasi adalah suatu proses pemurnian yang didahului dengan penguapan senyawa cair dengan cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang terbentuk. Destilasi merupakan suatu proses pemisahan dua atau lebih komponen zat cair berdasarkan pada titik didih. Secara sederhana destisi dilakukan dengan memanaskan/menguapkan zat cair lalu uap tersebut didinginkan kembali supaya jadi cair dengan bantuan kondensor.
 Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat-zat cair dalam campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah akan menguap lebih dahulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes sebagai zat murni (destilat). Destilasi digunakan untuk memurnikan zat cair, yang didasarkan atas perbedaan titik didih cairan. Pada proses ini cairan berubah menjadi uap. Uap ini adalah zat murni. Kemudian uap ini didinginkan pada pendinginan ini, uap mengembun manjadi cairan murni yang disebut destilat.
Pada percobaan ini menggunakan destilasi sederhana. Destilasi sederhana adalah salah satu cara pemurnian zat cair yang tercemar oleh zat padat/zat cair lain dengan perbedaan titik didih cukup besar, sehingga zat pencemar/pengotor akan tertinggal sebagai residu. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran cair-cair, misalnya air-alkohol, air-aseton, dll. Alat yang digunakan dalam proses destilasi ini antara lain, labu destilasi, penangas, termometer, pendingin/kondensor leibig, konektor/klem, statif, adaptor, penampung, pembakar, kaki tiga dan kasa.
Biasanya destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zat cair yang titik didihnya rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun hasilnya tidak benar-benar murni atau bias dikatakan tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat padat atau minyak. Namun pada percobaan ini kita memisahkan pelarut air dan alkohol.
Langkah pertama yang kita lakukan adalah merangkai alat destilasi sederhana. Kemudian mengambil 20 ml larutan sampel yang telah ditentukan oleh asisten. Selanjutnya memasukkan sampel dalam labu destilasi yang telah dibersihkan sebelumnya (steril). Setelah itu kita menambahkan 25 ml pelarut air kedalam labu destilasi yang telah terisi sampel sebelumnya, dan dimasukkan beberapa batu didih. Penambahan batu didih disini berfungsi untuk mengurangi letupan-letupan (gelembung-gelembung) saat proses pemanasan berlangsung, sehingga mengurangi resiko kecelakaan pada saat kita melakukan proses destilsi. Setelah ditambahkan ternyata zat terlarut (sampel) tidak saling bercampur. Zat terlarut berada pada lapisan atas, sedangkan pelarut berada pada lapisan bawah. Hal ini disebabkan massa jenis dari kedua larutan ini berbeda, dimana massa jenis pelarut (air) lebih besar dibandingkan dengan zat terlarut (sampel). Selanjutnya menghubungkan labu destilasi dengan pendingin leabing (kondensor) dan dihubungkan dengan generator uap air. Kemudian memanaskan labu destilasi yang berisi campuran larutan tersebut. Dan nampak sampel mendidih terlebih dahulu dari pada pelarut. Hal ini disebabkan sampel berada pada lapisan atas sehingga mendidih lebih dahulu. Setelah itu kita mencatat suhu (T) ketika uap larutan tersebut menetes dari labu destilasi, hasil destilasi dinamakan destilat. Tetesan pertama suhunya T1=1-9 = 56° C, T2= 10-16= 57°C , T3 = 17-77 = 58 °C, T4 = 78-111 = 59 °C,T5= 112-168 = 60 °C, T6 = 168-230 = 61 °C, T6 = 231-290 = 62 °C, T7 = 290-390 = 63 °Cdan T konstan = 63 °C
Berdasarkan titik didih dan sifat kelarutan sampel tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa senyawa tersebut adalah Kloroform (CHCl3). Berdasarkan teori yang ada bahwa kloroform memiliki titik didih 61,3 oC dan titik leleh -63,5 oC, kelarutan dalam air 0,8 g/100 mL. Meskipun nilai titik didih kloroform agak berbeda dengan titik didih pada saat konstan, namun dengan memperkirakan nilai terdekat dengan perbandingan sifat-sifat fisik yang hampir sama maka disimpulkan bahwa senyawa tersebut adalah kloroform.
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut non polar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap.
Dengan demikian, melalui destilasi antara dua komponen yang volatil, dapat ditentukan jenis senyawa tersebut. Pada larutan yang mengandung dua komponen volatil yang dapat bercampur sempurna, maka tekanan uap masing-masing komponen akan turun. Hukum Raoult menyatakan bahwa tekanan uap masing-masing komponen berbanding langsung dengan fraksi molnya.
2.  DESTILASI UAP
Destilasi uap umumnya digunakan untuk memurnikan senyawa organic yang terdestilasi uap (volatile), tidak tercamourkan dengan air, mempunyai tekanan uap yang tinggi pada 100 derajat C dan mengandung pengotor yang tidak atsiri (nonvolatile).
Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut maka pemurnian dilakukan dengan destilasi uap.
Dengan adanya uap air yang masuk, maka tekanan kesetimbangan uapzat kandungan kan diturunkan menjadi sama dengan tekanan bagian didalam suatu system, sehingga produk akan terdestilasi dan terbawa oleh uap air yang mengalir.
Prinsip dasar Destilasi uap adalah mendistilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air.
Pada destilasi uap ini pertama-tama yang dilakukan adalah merangkai alat destilasi uap kemudian memotong-motong cengke hasilnya potongan kecil cengkeh . selanjutnya Memasukkan cengkeh  kedalam labu leher dua. Kemudian  memasukkan 450 mL air kedalam erlemeyer sebagai pembangkit uap dan memasukkan beberapa batu didih. Langkah selanjutnya menghubungkan labu dengan pendingin dan menghubungkan dengan generator uap air. Kemudian memanaskan erlemeyer sebagai pembangkit uap. Selanjutnya memanaskan erlemeyer yang sebagai pembangkit uap secara perlahan-lahan sampai mendidih sehingga uapnya masuk kedalam labu yang mengandung zat sampel (cengkeh). Langkah selanjutnya menghentikan destilasi jika semua zat sampel telah terpisah dan tertampung dalam labu erlenmeyer sebagai penampung destilat. Lalu masukan destilat ke dalam corong pisah dan mengocok dan mendiamkan beberapa menit hasilnya terjadi dua lapisan. Langkah berikutnya memisahkan minyak atsirih dari pengotornya (air). Langkah terakhir adalah menimbang minyak yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh adalah minyak atsirih dari cengkeh sebanyak 0,69 gr

I.    KESIMPULAN

1.  Destilasi adalah suatu proses pemurnian yang didahului dengan penguapan senyawa cair dengan cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang terbentuk.
2.  Prinsip dasar dari adalah perbedaan titik didih dari zat-zat cair dalam campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah akan menguap lebih dahulu, destilasi kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes sebagai zat murni (destilat).
3.  Dari percobaan yang dilakukan diperoleh perbedaan titik didih dari kedua cairan yakni larutan sampel kloroform sebesar 63 C dan titik didih air 100  C.
4.  Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut non polar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap
5.  Dari 6 gram cengkeh dipeoleh 0,69 gram minyak atsirih.

J.  Kemungkinan Kesalahan
Ø  Kurangnya ketelitian praktikan dalam mencampurkan larutan
Ø  Kurangnya ketelitian praktikan dalam membaca skala temperatur pada termometer
Ø  Sedikitnya pengetahuan praktikan mengenai titik didih suatu senyawa.

DAFTAR PUSTAKA

Vogel. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT Kalman Media
Team Teaching DDPA. 2010. Penuntun Praktikum DDPA. Gorontalo
Anonim.2012. Macam-macam Destilasi. http://rolandy19.blogspot.com/2011/02/macam-macam-desilasi_10.html. Diakses Tgl. 1 mei 2012. Pukul 14:30 WITA.
Anonim.2012. Destilasi Uap .http://iiasukses.blogspot.com/2010/11/destilasi-uap.html. Diakses Tgl. 1 mei 2012. Pukul 14:50 WITA
Susilo  Tri Atmojo,S.Si. 2008. Pengartian Destilasi. http://chemistry35.blogspot.com/2011/08/pengertian-destilasi.html .Diakses Tgl. 1 mei 2012. Pukul 15:00 WITA.
Anonim. 2012 . Destilasi. http://mutiaramuslim1988.wordpress.com/2011/06/06/destilasi/ . Diakses Tgl. 2 mei 2009. Pukul 15:15 WITA








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar